Selasa, 25 November 2008

Penjajahan = Laki - Laki ??

Entah sadar atau tidak, semua manusia punya paham yang dianut. Paham itu terbentuk dengan sengaja atau tidak sengaja karna adanya karakter. Beberapa menit yang lalu, seorang sahabat mengirimku sebuah pesan singkat,
"AYO SMANGAT!!! AKU YAKIN BISA HIDUP TANPA LAKI-LAKI!!!"
Kutanya alasanna, dia bilang karena Indonesia harus lepas dari segala bentuk penjajahan. Adanya opini seperti itu bukankah wajar kalau aku berfikir kalau yang dimaksud sahabatku itu adalah bahwa laki-laki sama dengan penjajah?atau penjajahan itu dilakukan oleh para lelaki? Jujur saja aku tidak setuju. Menurutku penjajahan tidak selalu dilakukan oleh mereka yang berkelamin laki-laki. Semua manusia itu penjajah, dengan caranya masing-masing, dengan objeknya masing-masing, dan dalam sikon yang berbeda-beda. Seperti yang tadi kukatakan, adanya suatu paham pada sebuah karakter, bukankah itu adalah bentuk penjajahan? Ketika paham itu dianut dengan sengaja, sama dengan secara tidak sengaja kita menjajah diri sendiri untuk berperilaku seperti paham yang kita proklamirkan tadi. Ketika paham terbentuk sendiri tanpa disengaja, pada kenyataannya kita menjajah orang lain untuk mengerti dan memahami apa yang kita lakukan. Tidak ada kelamin khusus untuk penjajah. Kita semua penjajah…asal toleransi itu ada, tidak ada yang salah dengan semua itu. Bagaimana menurutmu?

Rabu, 19 November 2008

SUDAH KRONIS!

Tulisan ini kubuat pukul 8 pagi, hari Rabu tanggal 19 bulan November tahun 2008 di kamar sepi kos-kosanku. Aku terbangun dengan nafas luar biasa sesak dan kepala yang berat karena kelebihan kerja. Kenapa sesak? Karena begitu semua indera ditubuhku bekerja, aku langsung disuguhi berita ekslusif oleh tipi kesayanganku. Kenapa kepalaku menjadi abnormal? Karena realita di tipi dan kenyataan yang kualami dua minggu ini kupikir sangat berhubungan. Sayangnya aku tidak bisa berpikir runtut sekarang. Aku sadar, tapi pikiranku selalu meloncat-loncat seenaknya. Dan ini ga sehat, harus ada output dari sel-sel kelabuku! Maka kusepakati diriku untuk mengabadikan ketidaksehatan kepalaku ini pada sebuah tulisan…. Hehehehe…. Aku tak bisa berhenti tertawa prihatin. Melihat para pahlawan (tanpa ID) itu tak bisa bertanggung jawab atas predikatnya. Lihat kelakuan mereka, cabul sana cabul sini! Anak SD yang vaginanya belum jadi aja tetap diubek-ubek! Semakin kuat saja keyakinanku bahwa negeri kita ini sakit. Lihat juga mereka yang berstrata mapan dan nama belakang dengan gelar mentereng. Jelas, pengalaman mereka banyak, jatuh bangun kesakitan. Tapi kok ya masih kecil nyalinya? Heiii..aku Cuma mahasiswa kok! Aku ini belum bisa menepuk-nepuk jidat kalian! Kenapa takut???? Aku ini juga bukan jurnalis atau penulis yang bernobel, aku kacangangan kok! Kenapa menutup diri????? Kaliankan sukses dan pintar, kenapa tidak bisa mendukung yang lain supaya berhasil??? Atau jangan-jangan mereka melihat aura yang luar biasa bagus sehingga melihatku sebagai ancaman yang bisa menjegal reputasi mereka?? Atau suaraku terdengar begitu intelek makanya mereka jadi ciut???? Hahahaha….ternyata aku orang hebat! Tapi tetap saja kelakuan mereka semakin semakin menguatkan keyakinanku bahwa negeri kita ini SAKIT. Aku ga habis pikir, media intelektual yang setiap orang baca juga terimbas penyakit negeri. Mereka yang kritis, mereka yang adil, mereka yang berjiwa social dengan rubrik apik, dengan artikel vulgar penuh pemikiran yang sarat ironi, mereka yang hidup dengan idealisme berlabel, tapi apa??? Ternyata pengecut! Agak bergengsi sih, karena membawa embel-embel profesi! Mungkin aku subjektif dan egois karena menggenerelasasikan semua para kuli pena. Tapi kenyataan ini mengakarkan keyakinanku bahwa negeri kita ini S-A-K-I-T!!!!!!!!!!! Aku yakin Dewantara menangis bila mendengar ceritaku. Usahanya mengangkat pendidikan pada kebutuhan dan kepentingan di tingkat yang layak ternyata berjalan di luar tujuan. Tidak akan ada penerus bangsa kalau negeri ini dipenuhi dengan orang-orang yang apatis dan pengecut. Pengecut karena tidak mau dikoreksi. Aku tidak ingin menghakimi, aku ga mau menghasut siapapun yang membaca tulisan ini. Aku Cuma ingin semua orang tau bahwa aku, Dewi ‘Chapunk’ lagi kecewa. Dan kekecewaan ini lagi-lagi meyakinkanku bahwa negeri kita yang tercinta ini sedang SSAAKKIITT!

Minggu, 26 Oktober 2008

86 jam

86 jam lagi, aku akan menjadi tua bagi para balita. Aku diharapkan menjadi contoh dan tempat mereka bertanya. Dituntut untuk tau, mengalah, dan tersenyum atas kelakuan kurang ajar mereka :) 86 jam lagi, aku masih menjadi seorang anak diantara manula. Belum cukup pengalaman untuk membantah hal-hal ajeg menurut pemikiran mereka. Dituntut untuk selalu manut atas perintah dan arahan dengan alasan kebaikan… 86 jam lagi, aku sudah menjadi remaja bagi kehidupanku. Menjalani usia pertengahan sampai nanti hidupku berakhir. Mungkin disinilah aku dituntut untuk menjadi dewasa “ tua itu pasti, tapi dewasa adalah pilihan….” Kata kata itu terngiang, selalu….setiap 29 menjelang. Dewasa….dewasa….dewasa…apa itu ‘dewasa’ ? Thesaurus menjawab dewasa itu sudah cukup umur, sudah tau mana baik dan buruk. Definisi klise yang tidak menjelaskan banyak hal! Jujur saja aku tidak tau pasti apa sebenarnya dewasa itu. Yang kutau, dewasa itu identik dengan keberanian, kemandirian, orientasi masa depan, dan bijaksana. Keberanian disini adalah berani menghadapi segala hal. Dalam keberanian, harus ada keseimbangan akal dan rasa. Disaat kita berada pada posisi atas, rasa mutlak bermain, agar langkah yang berani itu tidak berubah nama menjadi sombong. Ketika di bawah, akal harus berperan, agar keberanian tidak berakhir dengan mati konyol. Mandiri dalam kamusku adalah tidak tergantung pada orang lain, terutama ketika menjalani sesuatu untuk kepentingan pribadi. Dimana kita berani berjalan dengan semua kemampuan diri sendiri. Menjadi dewasa tak mungkin lepas dari orientasi masa depan. Harus ada target yang ingin dicapai. Tidak lagi berpikir hari ini, tapi bagaimana esok hari. Dan dari semua yang di atas, bijaksana adalah kuncinya. Menjadi bijaksana berarti kita harus bisa mengerti dan menerima. Mengerti dengan apa yang kita hadapi, bagaimana kita menjalaninya, untuk apa kita melakukannya dan mampu menerima segala konsekuensi pilihan itu. Itulah dewasa menurutku. Keempatnya terkait menjadi satu dalam kedewasaan. “ tua itu pasti, tapi dewasa adalah pilihan….” Ya, dewasa adalah pilihan. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemukan satu situasi yang membuatku tiba-tiba KLIK! Ya sekaranglah waktunya! Akan ada proses, akan ada masanya. Aku tidak ingin menjadi dewasa karena banyaknya usia, aku tidak mau menunda dewasa karena ketakutan. Tetap saja, akan ada proses, akan ada masanya… 86 jam lagi, ketika aku menjadi tua bagi para balita, menjadi anak diantara manula, sekaligus remaja bagi kehidupanku, mungkin saat itulah proses itu akan bermula dan berakhir pada suatu masa….
251008, 09:30

Senin, 13 Oktober 2008

45-67-89-0!

empat lima kelopak kaku terjaga enam tujuh jemari kelu merasa delapan sembilan lidahku bergerak mengeja kosong! biru, kau bicara tanpa rasa!

Senin, 06 Oktober 2008

123

satu-satu mata mulai terpejam dua-dua tangan erat menggenggam tiga-tiga mulut sudah terdiam satu dua tiga hatiku sudah hitam