Sabtu, 27 September 2008

27 Sept 2008

Bisu...bisu...bisu...kembali membisu! Tersadar takkan lagi sama. Terbaca akan beda sementara! jengah!!!! Gelisah aku meracau, parau, kacau!!!! salahkah?....pasti???? ini kutukan, pasti kutukan! bergerak terjegal, berdiam aku hilang, Bisu....bisu...bisu....kembali aku membisu!!! ternyata ini jalanku... kecewa... aku kecewa padamu!!!!!!

25 sept 2008

Sesaat, aku berharap jalan aspal itu tak berujung...agar roda-roda ini tetap berjalan, melaju bersama pelukan dan pantulan wajahnya. Tak bosan aku melihatnya menatap depan dengan sesekali mengerling kearahku, tersnyum, lalu menghela nafas.... Entah memikirkan apa, helaannya berat seperti hembusanku. Kami sekarat, Pucat! Malam suram, gerbang kematian jingga sudah menantiku. Roda-roda berhenti, tanganku terlepas. Tak jenak aku berdiri, Aku merebak, lalu berpaling.... Sekali lagi...aku mati.

Rabu, 24 September 2008

lembaran kemungkinan itu...

awal yang buruk tidak akan berujung pada kebenaran….’ Sengaja kalimat itu kutulis disebuah buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Sekarang, kalimat itu terbaca jelas, sangat jelas sampai aku sadar bahwa semua yang terjadi pada hidupku adalah sebuah kesalahan.

masa lalu selalu mengawali keadaan hari ini dan menjadi bayangan masa depanmu’ Lembaran kedua bukuku, terbaca lagi sebuah kalimat sarat realita. Hari ini aku sekarat, bernyawa tapi tak merasa hidup. Lalu teringat masa laluku yang selalu membuahkan senyum pahit. Ya, masa lalu itulah yang mengawali hariku ini, dan mungkin akan selalu membayang di masa depanku nanti. Lagi-lagi tersenyum pahit, aku terjebak.

buka matamu, buka pikiranmu, akan ada pelajaran dari orang-orang diluar sana… Lembar ketiga, tertulis dari ucapan seseorang. Merasa kosong karena kalimat itu. Sampai saat ini aku tidak tahu apa itu percaya, pada semua orang, pada diriku sendiri. Selama ini hanya berpenggang pada keyakinan, bukan percaya. Menyedihkan menurutku, tapi percaya hanya akan membuahkan rasa sakit. Mungkin ini karma keyakinanku. Entahlah…

aku adalah aku’ Kertas keempat kubuka, kotor. Sekotor diriku sekarang.

bersambung.........