Jumat, 30 Mei 2008

Ibu...

Ibu, aku tak mengerti… Bisakah kau ajari aku mengeja dan bersabar? Ibu, aku lelah… Bisakah kau bersenandung indah dan mengusik punggungku? Ibu, aku ingin menangis… Bisakah kau berceloteh riang dan hapus air mataku? Ibu, aku luluh lantak… Bisakah kau tolong aku mengumpulkan serpihan hatiku? Ibu, aku sakit… Bisakah kau mengobati dan berikan pundakmu untukku bersandar? Ibu, aku tak kuat lagi… Bisakah kau contohkan padaku bagaimana caranya bertahan? Ibu, aku ingin mati… Bisakah kau memelukku dan menangis untukku? Ibu, aku sungguh ingin menyayangimu…Bisakah kau sekedar tersenyum dan mencintaiku seutuhnya??

Senin, 26 Mei 2008

ceRita maLam

Anak kecil itu terdiam di kamarnya. Hari sudah larut, tapi ia tak hentinya meratap, mengapa ia tidak dianugrahi sebuah kemampuan untuk berpikir lebih dari apa yang ia inginkan. Ia terkesima melihat betapa luas lautan, ia takjub ketika memandang pelangi, dia heran kenapa malam berbintang itu justru menakutinya, dia berpikir…dia berpikir…dia berpikir…tapi selalu terhenti sebelum menjawab.

Anak kecil itu selalu ingin mengatasi apapun sendirian. Tidak dengan tangan ayah bunda. Tidak dengan tangan siapapun, hanya tangan kecilnya.

Pernah suatu hari ia ingin mengambil roti kesukaannya diatas lemari. Ia meloncat, tapi tidak sampai. Dia mengambil kursi dan menaikinya, tetap tidak sampai. Ayahnya ingin menolong, tapi dia tetap bersikukuh mau mengambil roti itu sendiri. Setiap hari ia mencoba tapi selalu gagal. Seminggu kemudian, dia mengambil kursi lalu menaruh dingklik diatasnya, kemudian ia naik. Akhirnya sampai juga roti itu ditangannya. Ia girang bukan kepalang……tapi ketika ia membuka bungkusnya, roti itu sudah berjamur.

Anak kecil itu menangis…kenapa tubuhnya begitu kecil hingga tak bisa menjangkau? Kenapa ia tidak bisa berpikir lebih cepat agar ia bisa memakan roti kesukaannya sebelum berjamur?

Anak kecil itu tetap di kamarnya. Padahal hari sudah berganti nama. Apa yang salah pikirnya. Apa ia harus menunggu menjadi dewasa untuk bisa berpikir lebih? Kenapa manusia selalu terjebak dalam ruang dan waktu tanpa bisa memilih? Mengapa semua proses pertumbuhan yang dijalani teman2nya dengan tawa justru sangat membuatnya menderita?

Tak kunjung dia berdiam. Sampai ayam diujung jalan rumahnya berteriak…ia terjaga! Sudahlah……kalaupun ia harus terjebak, toh ia bisa terus berontak berusaha. Benturkan saja terus keinginan dengan keadaan!!pasti akan ada yang pemenangnya!! Kalau keinginan yang menang, ia akan membuat keadaan berpihak padanya. Kalau ternyata keadaan tetap bebal bertahan, ia akan berkompromi, mencari celah agar tetap bisa tersenyum ketika menjalaninya.

Kemudian anak kecil itu terpejam…lelap.